Fungsi Alquran terhadap Kitab sebelumnya


FUNGSI AL-QUR’AN TERHADAP KITAB SEBELUMNYA
Di dalam makalah ini terdapat dua unsur pokok yang sangat penting untuk dipahami sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan mengenai fungsi Al-Qur’an terhadap kitab sebelumnya. Kedua unsur tersebut yaitu tentang kitab dan fungsi Al-Qur’an serta hal-hal yang berkaitan dengan keduanya.
1.       Kitab-kitab Allah dan Ahlul Kitab
Kata “kitab” atau “buku suci” digunakan dalam Al-Qur’an baik dalam pengertian umum maupun khusus. Dalam pengertian umum, kitab adalah dasar dari seluruh wahyu, sumber dari hukum Allah yang abadi dan terdiri dari firman-firman (kalimat) yang merupakan ketetapan-katetapan yang tidak dapat diubah. Sedangkan dalam pengertian khusus, kitab berarti perjanjian lama dan perjanjian baru dan juga Al-Qur’an. Tetapi Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai wahyu yang paling sempurna atau kitab yang menyeluruh.[1] Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT berikut. Artinya : “Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (QS Al Baqarah : 136).
Nabi menerima syariat melalui wahyu yang berasal dari tuhan untuk dirinya dan juga bisa diberikan kepada selainnya, sedangkan rasul adalah seorang Nabi yang bertugas menyampaikan syariat, petunjuk aatau hal lainnya kepada sebagian umat yang menjadi tanggungannya, jadi seorang Rasul pastilah dia seorang Nabi dan dengan demikian seorang Nabi belum tentu berfungsi sebagai Rasul. Rasul menerima suhuf atau Kitab yang dalam arti harfiahnya bermakna lembaran-lembaran yang tertulis, berisi tentang syariat, perintah atau larangan. Dan  diantara kitab tersebut adalah :
1.      Nabi ibrahim AS
2.      Nabi Musa AS, disebut Taurat, berisi hukum syariat yang ditujukan kepada Bani Israil.
3.      Nabi Daud AS, disebut Zabur, juga ditujukan kepada Bani Israil.
4.      Nabi Isa al-Masih AS, disebut injil yang merupakan penyempurnaan dan penjelas bagi kitab-kitab sebelumnya yaitu Zabur dan Taurat dan ditujukan juga untuk Bani Israil.
5.      Nabi Muhammad SAW, disebut Al-Qur'an, merupakan petunjuk berupa syariat dan hukum bagi seluruh umat manusia dan sebagai penjelas dan penyempurna kitab-kitab Allah sebelumnya. Jadi Al-Quran merupakan wahyu tertulis terakhir (Final Revelation) berisi tentang penjelasan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam menempuh kehidupan di dunia agar mencapai kesejahteraan, keselamatan dengan tujuan akhir adalah kebahagiaan hidup di akhirat nanti.[2]
Semua kitab-kitab tersebut berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Oleh karena sumbernya satu, maka semua ajarannya adalah sejalan selaras dan bisa dijadikan dasar untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya. 
Adapun yang dimaksud dengan ahlul kitab secara umum berarti kaum yang percaya kepada kitab agama tertentu, sebagaimana digunakan dalam Al-Qur’an. Namun istilah ini secara khusus tertuju kepada kaum yahudi dan nasrani.  Istilah ahlul kitab terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an. Pengertainnya jelas yaitu para pengikut agama yang diberikan kitab suci, khususnya yahudi dan nasrani. Tetapi Qs.Al-Baqarah ayat 62 memasukkan shabiin ke dalam kelompok Ahlulkitab dan memperluas makna istilah ini hingga mencakup semua orang yang percaya Allah dan hari akhirat serta mengerjakan amal shalih.[3] William Montgomery watt mengatakan bahwa Muhammad menyandarkan pernyataan kenabian beliau berdasarkan atas kesamaan pengalaman kenabian beliau dengan pengalaman Musa dan Isa (Yesus). Maka beliau tidak dapat mengingkari kalau orang-orang  yahudi dan orang Kristen itu adalah ahli kitab, walaupun mereka nyaris hampir menyimpang dari keaslian wahyu yang diberikan kepada Isa dan Musa, sebagaimana yang diduga. Walaupun Al-quran memberikan argumen-argumen yang menyerang orang nasrani dan sebagian terbesar umat mengatakan bahwa perubahan serta ketidak murnian kitab suci Kristen dan yahudi itu secara eksplisit disebutkan di dalam al quran, namun persepsi pokok alquran terhadap yahudi dan Kristen dapat dikatakan kalau mereka adalah ahli kitab, yang menerima kitab suci, pada hakikatnya mengajarkan ajaran-ajaran yang sama seperti yang ada pada Al-qur’an. Sekalipun demikian, orang yahudi dan orang Kristen  ini nyaris hampir menyimpang dari kebenaran kitab suci yang asli, sekurang-kurangnya mereka makin memperluas ketidak mengertian dan ketidak menerimaannya kepada nabi Muhammad.[4]
2.      Fungsi dan Peranan Al-Qur’an
Al-qur’an tidak mengkhususkan pembicaraanya kepada bangsa tertentu , seperti kepada bangsa arab saja. Begitu juga ia tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada satu kelompok tertentu, seperti kepada kaum muslim saja. Melainkan ia juga mengarahkan pembicaraannya kepada orang-orang non-muslim, sebagaimana ia berbicara kepada kaum muslim. Bukti tentang hal ini sangat banyak dijumpai di dalam Al-qur’an. Di antaranya adalah pembicaraan Al-qur’an yang ditujukan kepada orang-orang kafir, kaum musyrik, Ahlulkitab, Yahudi, Bani Israil, dan Nasrani. Al-qur’an mengajukan argumentasi kepada setiap golongan ini dan menyeru mereka untuk menerima ajaran-ajaran yang benar. Al-qur’an mengajukan argumentasi kepada golongan tersebut dan mengajak mereka kepada agama islam, tanpa mengaitkan pembicaraan itu dengan bangsa arab semata. Mengenai hal ini telah terlasnir dalam beberapa ayat di dalam Al-qur’an, misalnya Qs. Ali Imran ayat 64 dan Qs. At-Taubah ayat 11.[5]
Selain ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, ada pula ayat-ayat yang menunjukkan universalitas dakwah islam. Di antaranya firman allah Qs. Al-An’am:19, Qs. Al-Qalam:52, Qs. Shaad:87, Qs. Al-Muddatstsir :35-36. Sehingga dari sejarah kita mengetahui banyak di antara para penyembah berhala, orang-orang Yahudi, dan Nasrani yang masuk islam. Begitu pula sekelompok orang dari  bangsa non-arab, seperti Salma dari Persia, Shahib dari Romawi, Bilal dari Ethiopia, dan lain-lain.[6]
Al-qur’an sebagai kitab suci agama Islam merupakan kitab yang paling sempurna juga telah dinyatakan oleh Allah dalam Qs. Al-Ma’idah:48, mengandung hakikat syariat para nabi Qs.Asyuara 13, dan Al-qur’an meliputi segala sesuatu pada Qs. An-Nahl ayat 89. Jadi kesimpulan ayat-ayat ini adalah bahwa Al-qur’an mengandung kebenaran-kebenaran seperti yang dijelaskan di dalam kitab-kitab samawi lainnya, namun disertai beberapa tambahan. Hal itu disebabkan karena Al-Qur’an merupakan kitab terakhir dan paling sempurna serta sebagai korektor bagi kitab-kitab yang turun sebelumnya.  Muhammad Ali As-Shabuny memberikan penjelasan tentang Qs. Al-Ma’idah ayat 48 bahwa selain mengoreksi dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka pada ayat selanjutnya sampai ayat 50 Allah memperingatkan rasulNya agar tidak mengikuti kesesatan orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta memerintahkan Nabi Muhammad untuk berpegang teguh kepada wahyu Al-Qur’an.[7]
Al-Qur'an adalah wahyu Allah ( 7:2 ) yang berfungsi sebagai mu'jizat bagi Rasulullah Muhammad saw ( 17:88; 10:38 ) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim ( 4:105; 5:49,50; 45:20 ) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya ( 5:48,15; 16:64 ), dan bernilai abadi. Sebagai mu'jizat, Al-Qur'an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan ( insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur'an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 - 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya : 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.[8]
Al-Qur'an sebagai final revelation, dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan ditujukan kepada seluruh umat manusia, berisi seluruh rangkuman dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, petunjuk ke jalan yang benar, pembeda antara yang bathil dan yang hak, dan sebagai penerang. Al-Qur’an berisi segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia baik yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan, sosial, ekonomi, negara, teknologi, jual-beli (bisnis), hukum privat dan sebagainya.
Adapun dalam hubungannya dengan kitab-kitab lain yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut, di antaranya:
a.       Al-Qur'an menuntut kepercayaan umat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. Hal ini ditegaskan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 4:” Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.
b.      Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan pembukti (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. Menganai hal ini telah dijelaskan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,(QS. Al-Ma’idah:48). Sebagai korektor Al-Qur'an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur'an sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum,prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya.
Ayat lain yang berkaitan dengan pembenaran Al-Qur’an terhadap kitab-kitab sebelumnya juga terdapat dalam Qs. Al-Baqarah ayat 91,” Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”
c.       Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara umat-umat rasul yang berbeda. Mengenai perkara ini telah di jelaskan dalam Qs. An-Nahl ayat 63 – 64,”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
d.      Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik olehYahudi dan Kristen. Dengan demikian demikian ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba'. Tsamud, 'Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulakan bahwa Al-Qur’an dalam kaitannya dengan kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Suhuf-suhuf, memiliki fungsi yang sangat jelas. Beberapa fungsi Al-Qur’an terhadap kitab sebelumnya terlansir dalam Qs. Al-Baqarah ayat 91 dan Qs. Al-Ma’idah ayat 48. Di dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki peranan penting bagi kitab sebelumnya, yaitu sebagai evaluator/korektor dan sebagai pembenar isi-isi kitab tersebut.
Dengan demikian sesungguhnya Al-Qur’an Ahlulkitab untuk mengamalkan ajaran agama. Justru mengukuhkan beberapa ajaran dasar mereka seperti ibadah pada hari sabtu, qishas, dan aturan makanan halal dan haram. Adapun yang dicela oleh Al-Qur’an adalah tindakan melampui batas dalam beragama (Qs. Al-Ma’idah:78), penyimpangan dalam menafsirkan ajaran agama, mengubah ayat-ayat Allah dari kebenarannya dan mempraktikkan kebohongan-kebohongan (Qs.An-Nisa’:47), mereka mengingkari perintah Allah dan berusaha menyesatkan orang lain. Dan terhadap orang-orang ini Al-Qur’an benar-benar memerintahkan kita untuk waspada, misalnya dalam Qs. Ali Imran:29 dan Qs.At-Taubah:110. Tetapi meskipun Al-qur’an mengukuhkan dan membenarkan ajaran kitab-kitab sebelumnya, bukan berarti kita diperbolehkan untuk mencampur adukkan dan mempraktikkan semua ajaran agama.[9] Jadi Umat islam harus harus berpgang teguh pada Al-Qur’an karena ia merupakan kitab yang paling sempurna dan terbebas dari rekayasa dan tangan jahil manusia.
Sementara dalam kesimpulan yang cukup kontradiksi dengan pernyataan di atas, William Montgomery watt mengatakan dalam bukunya bahwa Umat Kristen harus mengikuti kebenaran mendalam pada pernyataan Al-qur’an agar mengakui agama Ibrahim. Umat yahudi, Kristen, dan Islam, semua memiliki keimanan yang kembali kepada Ibrahim, sungguhpun dengan nama apa saja keimanan itu diberi nama. Sementara sebagian umat islam agaknya berpikir bahwa suatu agama itu wajib tetap asli murni tidak berubah-rubah. Dalam pada itu, sebagian umat Kristen melihat agama sebagai suatu hal yang hidup yang tumbuh dan berkembang sampai-sampai menemukan kebutuhan-kebutuhan masyarakat manusia yang senantiasa menjadi dan berubah tak kenal usai, dan hanya di pusatnyalah yang tetap dan tidak berubah untuk selama-lamanya.[10]


DAFTAR PUSTAKA
-          Faruq Sherif, 2001,  Al-qur’an Menurut Al-qur’an (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta).
-          Muhammad Ali As-Shabuny, 2000, Tafsir Tematik Surat Al-Baqarah – Al-An’am (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar).
-          Muhammad Husein Thabatthaba’I, 2003, Memahami Esensi Al-Qur’an (Jakarta: Penerbit Lentera).
-          William Montgomery watt, 1996, Titik Temu Islam-Kristen persepsi (Jakarta: Gaya Media Pratama).






[1] Faruq Sherif, 2001,  Al-qur’an Menurut Al-qur’an (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta), hal. 178
[3] Faruq Sherif, 2001,  Al-qur’an Menurut Al-qur’an (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta), hal. 178
[4] William Montgomery watt, 1996, Titik Temu Islam-Kristen persepsi (Jakarta: Gaya Media Pratama) hal.35
[5] Muhammad Husein Thabatthaba’I, 2003, Memahami Esensi Al-Qur’an (Jakarta: Penerbit Lentera), Hal.27
[6] Ibid. hal. 29
[7] Muhammad Ali As-Shabuny, 2000, Tafsir Tematik Surat Al-Baqarah – Al-An’am (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), Hal.270
[9] Faruq Sherif, 2001,  Al-qur’an Menurut Al-qur’an (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta), hal. 181
[10] William Montgomery watt, 1996, Titik Temu Islam-Kristen persepsi (Jakarta: Gaya Media Pratama) hal.39

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar